Terungkap Kisah Hidup Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru

Liputanindo.com Pelaku penembakan di masjid di Selandia Baru di ketahui bernama Brenton Tarrant, pria asal 28 tahun yang tumbuh dewasa di Grafton, Northern River, Australia. Setelah di telusuri beberapa awak media, ternyata Brenton Tarrant hanyalah seorang pemuda desa biasa yang pernah bekerja sebagai pelatih kebugaran di Big River Gym, kawasan utara New South Wales, Grafton, Australia.

Kabar terkait riwayat pekerjaan Tarrant itu dikonfrimasi oleh manajer gym, Tracey Gray. Gray menyatakan bahwa Tarrant bekerja di Big River Gym setelah lulus sekolah, pada 2009 hingga 2011. Tarrant dikenal sebagai sosok yang berdedikasi dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai pelatih kebugaran.

Selain itu, Tarrant bekerja sebagai pelatih kebugaran untuk melatih anak-anak secara gratis. Tarrant mewarisi minat ayahnya yang sangat gemar dengan dunia kebugaran fisik.

“Dia adalah pelatih pribadi yang sangat berdedikasi. Dia bekerja di program kami yang menawarkan pelatihan gratis kepada anak-anak di masyarakat, dan dia sangat bersemangat tentang itu” kata Gray.

Menurut Gray, setelah meninggalkan aktivitas sebagai pelatih kebugaran sejak tahun 2011, Tarrant memutuskan untuk mengelilingi dunia ke Asia dan Eropa. Diketahui dia sudah mengelilingi berbagai negara dari Korea Utara hingga Pakistan. Tarrant melakukan perjalanan itu dengan uang yang diduga dari cryptocurrency seperti Bitcoin.

Diduga pemikiran radikalnya ini muncul saat mengelilingi berbagai negara. Brenton Tarrant menjadi satu-satunya pelaku yang melakukan aksi teror penembakan di masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Teror penembakan itu terjadi di masjid Al Noor dan masjid Linwwod pada Jumat (15/3/2019).

Brenton Tarrant melakukan aksi keji itu Secara Live streaming Lewat fitur Facebook

Saat melakukan aksi keji itu, Tarrant melakukan siaran langsung lewat fitur Facebook Live menggunakan action camera. Dalam video streaming tersebut dia menyebut dirinya sebagai lelaki kulit putih keturunan Inggris biasa yang lahir dari pekerja berpengasilan rendah.

Foto Keluarga Brenton Tarrant

Dia juga menyatakan bahwa dirinya tidak tertarik untuk melanjutkan ke universitas setelah dirinya putus sekolah. Ayahnya yang seorang atlet meninggal akibat kanker saat dia berumur 20an awal. Dan semenjak ditinggal oleh ayahnya itulah dia memutuskan untuk keliling dunia.

Mantan bosnya, Gray, mengaku terkejut dan seolah tidak percaya Tarrant bisa melakukan niat jahat tersebut. “Jujur saya tida bisa percaya bahwa seseorang yang sehari-hari berurusan dengan saya dan terbiasa berkomunikasi dan berinteraksi, mampu melakukan sesuatu yang ekstrem seperti ini,” kata Gray.

Sementara, ibu dan saudara perempuannya masih tinggal di daerah di mana dia dibesarkan. Awalnya, dia berencana untuk melakukan aksinya di sebuah masjid di Dunedin, namun kemudian mengubah target tempatnya ke Masjid Al Noor.

Facebook Comments

Leave a Reply