oleh

Pengamat Ekonomi : Siapapun Presidennya Tak Bisa Mencegah Pelemahan Rupiah

Berita Nasional Pengamat Ekonomi, Chistianto Wibisono, mengatakan obat paling manjur untuk mengobati Rupiah saat ini adalah menggenjot ekspor. Ekspor Indonesia saat ini bahkan jauh tertinggal dari negara tetangga.

“Memang lucu sekali, masa kita ekspor cuma USD 180 miliar, Vietnam USD 200 miliar. Malaysia USD 250 miliar. Jadi bangsa 250 juta (total penduduk) kok kalah dengan Vietnam sama Malaysia itu,” kata dia saat ditemui dalam sebuah acara diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Pelemahan Rupiah, lanjutnya, dikarenakan adanya tiga defisit. Yaitu defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD), defisit neraca perdagangan serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di tengah kepungan defisit tersebut, kondisi Rupiah yang melemah dinilai wajar. “Sekarang kenyataannya kan kita sudah defisit. 3 Defisit. Ya siapapun presidennya pasti mata uangnya akan lemah, tak bisa dipaksa kuat, karena memang posisinya begitu.”

Dia mengapresiasi langkah pemerintah yang sudah melakukan beberapa langkah kebijakan yang bertujuan mengurangi impor. Namun langkah tersebut juga perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong ekspor lebih kuat.

Dia mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi penyebab melempemnya ekspor Indonesia. Di mana, faktor utamanya adalah lambatnya pembangunan industri nasional. Seharusnya, industrialisasi sudah digenjot sejak lama.

“Ada berbagai faktor, telat membangun industri nasional walaupun sektor industri tuh sudah luar biasa juga loh 70 persen ekspor kita tuh sektor manufakturing. Walaupun manufakturing tuh katakanlah tidak jadi bernilai tambah artinya masih yang gitu – gitu aja,” kata dia.

Dia menjelaskan, pertumbuhan industri di Indonesia cenderung lambat dan tidak sesuai harapan. “Ada suatu faktor pembangunan industri kita memang kurang apa ya kurang seperti yang kita harapkan,” ujarnya.

Pengembangan industri hilir pun dinilai tidak berjalan lancar, sebab, nyatanya Indonesia masih bergantung dengan impor. Padahal, ada beberapa komoditas yang sebenarnya sudah diproduksi di dalam negeri.

Dia menegaskan industrialisasi di Indonesia harus segera dibenahi agar ekspor bisa terdongkrak. Terlebih saat ini akan segera datang era baru di mana teknologi sudah semakin canggih yaitu industri 4.0

“Dengan pendekatan yang lebih sistematis dan pak Airlangga (Menperin) sudah mencanangkan dia mau masuk industri 4.0 itu sebagai upaya untuk cepat memperbaiki industri yang ketinggalan dari yang lain.”

Sumber : Merdeka

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed