Miris!!! Dijual Rp 35 Juta ke Malaysia, 2 Gadis Indonesia Dipaksa Kerja 20 Jam Sehari

Liputanindo.com Praktek penggelapan dan perdagangan manusia berkedok pekerjaan masih kerap ditemui di Indonesia. Hal seperti ini diduga kerap terjadi karena kurangnya informasi dari para pencari kerja, juga pastinya silat lidah dari si penyalur yang tak bertanggung jawab.

Seperti kisah tragis dua gadis muda Indonesia yang dijual ke Malaysia ini. Kondisi Nica (22) dan Vera (22) masih nampak trauma. Nica nampak lemas, sementara Vera sudah bisa melempar senyuman.

Kedua gadis asal Sumsel itu baru saja selamat dari cengkeraman sindikat perdagangan manusia di Malaysia. Vera menuturkan pertama kali mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari kolom pencarian laman Facebook miliknya. Vera pun langsung men-chat dan disambut dengan baik.

“Saya chat dia, dia bilang kami mau dipekerjakan di Malaysia sebagai karyawan restoran. Kami setuju asal resmi dan tidak dijadikan pembantu rumah tangga,” ungkapnya.

Keduanya pun selanjutnya melengkapi beragam berkas hingga akhirnya orang yang mengaku agensi mengirimkan tiket penerbangan. Vera dan Nica pun berangkat dari SMB 2 menuju ke Bandara di Surabaya, Jatim.

Di Surabaya, mereka dijemput suami istri, AG dan LN yang kemudian menginap di rumahnya. Usai mengurus paspor di kantor imigrasi kawasan Jawa Timur, mereka pun berangkat menuju Batam.

“Kami baru diberitahu sesaat mau berangkat ke Batam, saya akan bekerja di kedai sementara sepupu saya CH sebagai baby sister, saya marah tapi tak dihiraukan lagi,” kata RA.

Keduanya berpisah di pelabuhan menuju ke Malaysia. Nica berangkat terlebih dahulu sementara RA belakangan. Di Malaysia keduanya pun ditempatkan di rumah berbeda kemudian disalurkan kembali. Vera mengaku selama di Malaysia diminta bekerja selama 20 jam dalam satu hari.

Mulai dari bangun pukul 03.00 hingga tidur pukul 00.00 WIB. Pekerjaannya mulai dari bersih-bersih rumah, memasak, dan menjadi buruh di toko.

“Majikan saya disana itu punya toko, saya bangun jam 3 subuh, menyapu, mengepel, memasak. Kemudian berangkat ke toko, diminta memikul beberapa karungan gula dan beras. Kemudian pulang jam 5 sore, dan melanjutkan pekerjaan di rumah, mulai dari memasak, menyetrika, masak makan malam dan lain sebagainya. Majikan saya bilang kamu makan setelah kami makan, kamu tidur setelah kami tidur,” katanya.

Vera mengaku berulangkali mendapatkan perlakuan kasar majikannya, mulai dari ditendang, diinjak, dijewer bahkan disiram air kotor. Majikan menganggap Vera tak patuh dan kerap melawan sehingga berbuat kasar.

Bahkan, Vera sempat disiram air bekas air cucian daging babi karena majikan menganggap melawan perintahnya. Dia mengaku tidak bisa berkomunikasi karena ponselnya disita oleh majikan.

“Semakin melawan saya semakin dianiaya, saya dimasukkan ke kamar, ditendang, ditampar bahkan diinjak menggunakan sepatu hak tinggi, hingga tempurung kaki memar-memar,” katanya.

Majikan pun sempat mengembalikannya ke agensi, beberapa hari di agensi dirinya kembali disiksa saat diserahkan kepada majikan baru. Majikan kedua juga melakukan hal yang sama, bahkan sempat hendak dibuang ke hutan.

“Saya dibangunkan jam 01.00 dibawa ke mobil, lalu mau dibuang ke hutan. Saya melawan dan berontak. Katanya saya sudah dibeli Rp 35 juta. Kalau mau bebas saya harus membayar dulu uang itu,” jelasnya.

Beruntung Vera dan Nica berhasil diselamatkan setelah keduanya mengelabui majikan saat diajak untuk memperpanjang paspor di Batam.

Facebook Comments

Leave a Reply