Mengejutkan!!! Pasukan Hitam Republik Chechnya, Siap Hancurkan Rezim Setan Myanmar

Liputan Indo Myanmar segera menghadapi kemarahan umat Muslim di seluruh dunia menyusul persekusi terhadap warga etnis minoritas Muslim Rohingya.

Negara Chechnya, sudah ada puluhan ribu warga yang berunjuk rasa di jalanan sekaligus mengutuk genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar. Pemimpin Chechnya yang juga salah satu sosok yang paling ditakuti ISIS, Ramzan Kadyrov, juga mengkritik pemerintah Rusia yang hanya diam melihat kondisi yang menurutnya mirip Holocaust pada Perang Dunia II.

“Jika Rusia mendukung rezim setan ini, maka saya akan melawan Moskow,” kata dia dalam sebuah video yang diunggah sebelum unjuk rasa.

Kadyrov juga berjanji akan mengerahkan pasukan hitam kebanggaan Republik Chechnya yang telah melewati banyak pertempuran maut untuk menghancurkan militer Myanmar.

“Amerika dan sekutunya sudah merasakan pedihnya berhadapan dengan pasukan hitam kami. Jika pemerintah Myanmar tetap membiarkan pembunuhan terhadap etnis Rohingya, maka tujuan kami hanya satu, menghancurkan mereka,” tegas presiden yang menjabat saat usianya masih 30 tahun ini.

Pasukan Hitam Pembawa Maut

Pasukan Hitam Republik Chechnya

Sejarah pasukan hitam Chechnya bermula saat Mujahidin ikut membantu pada perang kedua Chechnya. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan kemudian deklarasi kemerdekaan Chechnya, pejuang mulai memasuki berbagai kawasan.

Banyak dari mereka merupakan veteran perang Soviet-Afganistan dan sebelum invasi Rusia, mereka menggunakan keahlian mereka untuk melatih para pejuang Chechnya.

Nama Ramzan Kadyrov akhir-akhir ini santer dibahas setelah ia mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah untuk memerangi ISIS.

Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Lahir tanggal 5 Oktober 1976. Termasuk usia yang sangat muda untuk jabatan sebagai Presiden. Tapi di usia semuda itu pun ia sudah memimpin Republik Chechnya hampir 10 tahun atau tepatnya sejak ia berusia 30 tahun.

Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua.

Saat ia mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu.

Leave a Reply