Mengejutkan, Kasus e-KTP Juga Melibatkan Warga Amerika

Liputan Indo Kasus korupsi yang terjadi di pengadaan proyek e-KTP ternyata melibatkan banyak orang di DPR dan Kemendagri. Sejumlah anggota DPR sudah diperiksa KPK, bahkan ada yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Selain merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun menurut KPK, patgulipat dalam penganggaran proyek e-KTP ini juga melibatkan sejumlah petinggi partai. Misalnya, Ketua Fraksi Golkar (saat itu) Setya Novanto yang sekarang jadi ketua umum Golkar dan Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang kini berada di balik jeruji besi Lapas Sukamiskin setelah resmi jadi salah satu tersangka.

Anas Urbaningrum dan Setya Novanto

Persoalan bertambah pelik, ketika salah satu saksi kunci skandal mega korupsi proyek e-KTP, Johannes Marliem tewas di kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat, Kamis (10/8) dini hari waktu setempat. Johannes pernah diperiksa KPK untuk mendalami kasus e-KTP di Singapura dan Amerika beberapa waktu lalu.

Beberapa hari lalu malah Johannes Marliem dikabarkan tewas bunuh diri. Petaka ini tak lama setelah dirinya mengaku punya data 500 GB tentang korupsi e-KTP yang dimuat harian nasional Indonesia beberapa waktu lalu.

Johannes Marliem tak lain adalah penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP, seperti yang disebutkan dalam dakwaan Sugiharto dan Irman.

Polisi Amerika belum merilis secara pasti penyebab kematian Marliem. Begitu juga KPK, belum tahu penyebab kematian Marliem, ditembak atau bunuh diri seperti yang diberitakan belakangan ini.

“Dari informasi yang diterima KBRI Washington DC dari otoritas keamanan AS, jenazah yang ditemukan meninggal adalah Johannes Marliem, kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir saat dihubungi Liputanindo.com, Sabtu (12/8).

“Johannes Marliem ditemukan tewas dini hari 10 Agustus 2017 di Los Angeles,” ujar dia.

Musibah yang menimpa orang-orang yang terlibat dalam korupsi e-KTP bukan hanya terjadi pada Marliem. Penyidik utama KPK, Novel Baswedan juga mendapat teror dari orang yang belum diketahui siapa pelakunya.

Wajah Novel disiram air keras pada pertengahan April 2017 lalu. Gilanya lagi, Novel disiram usai ibadah salat Subuh di masjid dekat rumahnya kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Hingga kini, kasusnya masih gelap. Meskipun Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengungkap dalang penyiraman Novel.

Namun Novel sendiri merasa tak yakin bahwa kasus penyiramannya ini bisa diungkap oleh polisi. Lantaran Novel mengungkap, ada keterlibatan jenderal polisi di dalam kasusnya. Menurut dia, ada dua kubu di Polri yang ingin melindungi dan mencelakainya.

“Kalau ditangani dengan serius tetapi setelah tiga bulan saya yakin Polri enggak berani ungkap perkara ini,” kata Novel saat di wawancara khusus dengan Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa di Metro TV seperti dikutip Liputanindo.com, Rabu (26/7).

Sejumlah pihak telah mendesak agar kasus penyiraman Novel ini dibentuk tim pencari fakta. Sayang, wacana ini tak mendapatkan tanggapan serius dari Presiden Jokowi.

Jangan sampai jatuh korban ketiga dari kasus korupsi e-KTP lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *