Kombes Goenawan : Setelah Dipecat Malah Bilang Soal Sogok dan Haram

Liputan Indo Baru-baru ini sejumlah media sosial tengah di hebohkan sebuah pengakuan dari seorang anggota polisi yang bernama Muhammad Zulkiram. Dia mengaku bahwa dirinya bisa menjadi anggota Polri karena menyogok panitia, sehingga dia merasa keanggotaannya tidak membawa berkah selama 7 tahun bertugas.

Hal ini pun membuat Zulkiram memilih mundur dari Korps Bhayangkara yang sudah dijalani selama 7 tahun. Namun yang menghebohkan dari pengakuan Zulkiram adalah Benarkah sogok menyogok untuk masuk Polri sudah menjadi tradisi?

Perjalanan Muhammad Zulkiram

 

Zulkiram resmi diangkat menjadi bagian dari Korps Bhayangkara pada tahun 2007 silam. Niatnya menjadi Polisi lantaran tuntutan dari sang ibu yang sangat menginginkan anaknya menjadi polisi. Dia pun tau Ibunya memilih jalur menyogok untuk memuluskan langkah anaknya menjadi seorang polisi.

“Ikut-ikut saja, tapi saya tahu sih, pasti nyogok, pasti lewat, tapi saya ikut-ikut saja. Orang nggak tahu agama, salat juga nggak. Itu perintah dari orang tua juga jadi polisi,” ujar Zulkiram kepada Liputanindo.com Senin (7/8/2017).

Saat itu Zulkiram membayar puluhan juta rupiah agar diterima menjadi anggota Polri. “Bayar berpuluh-puluh juta,” sebutnya.

Zulkiram pun memulai karirnya sebagai anggota Polri dengan bertugas di Satuan Intelkam Polres Aceh Timur. Karirnya berlanjut dengan diangkat menjadi ajudan Kapolres Aceh Timur. Puncak karirnya pun saat dirinya bertugas di Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Aceh.

Pria yang akrab disapa Joekhana ini kemudian memutuskan mundur dari anggota Polri pada Desember tahun 2014 lalu. Dia merasa 7 tahun menjadi seorang polisi tidak membawa berkah baginya karena menyogok di awal. Kala itu pangkat terakhirnya adalah Briptu.

Begitu tekad untuk resign telah bulat, Zulkiram disarankan untuk menunggu sampai waktu dinasnya mencapai 10 tahun. Hal tersebut agar bisa mengambil pensiun dini dan tak dipecat.

“Saya tanya teman, katanya belum bisa sebelum 10 tahun dinas. Saya kan baru 7 tahun dinas. Saya putuskan untuk langsung berhenti saja. Kan nanti jadi pelanggaran disiplin, kalau pelanggaran disiplin berturut-turut kan nantinya dipecat,” ungkap Zulkiram.

“Terus saya resign. Saya kena pelanggaran kode etik Polri. Nggak apa-apa lah (diberhentikan) hormat nggak hormat yang penting saya keluar. Setelah itu saya bisa lebih dalam lagi mempelajari agama,” tambahnya.

 

Zilkiram memutuskan keluar dari anggota Polri juga untuk fokus mempelajari agama. Keputusan ini pastinya langsung ditentang keluarga dan bahkan sang ibu sempat tidak mengajaknya berbicara selama sebulan penuh.

“Banyak (yang menentang). Ibu saya terutama. Saya kan memang sudah tak punya ayah, beliau meninggal ketika saya kecil. Dan saya anak cowok satu-satunya di keluarga,” katanya.

Sang ibu, yang sangat berharap anaknya menjadi polisi, sempat kecewa berat. Zulkiram menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan ibunya agar dia bisa menjadi bagian dari Korps Bhayangkara.

“Jadi diharapkan banget punya pekerjaan tetap gitu. Ibu saya guru, beliau banyak berkorban untuk saya. Termasuk soal mendaftar ke polisi. Dia paling kecewa. Didiamkan sampai sebulan,” tuturnya.

Namun Kisah hijrah Zulkiram dari anggota Polri ini memunculkan pertanyaan, benarkah sogok menyogok menjadi anggota Polri sudah tradisi? Mabes Polri pun angkat bicara menanggapi cerita Zulkiram.

“Bagus ada pemberitaan seperti ini untuk menyadarkan semuanya. Bahwa perbuatan suap untuk upaya apa pun juga haram hukumnya,” kata Asisten SDM Kapolri Irjen Arief Sulistyanto kepada Liputanindo.com, Senin (7/8/2017).

Arief mengatakan, sejak Jenderal Tito Karnavian menjadi Kapolri, sudah ada kebijakan tegas tak boleh ada praktik KKN dalam program apa pun, termasuk proses rekrutmen. Tak boleh ada praktik suap, sogok-menyogok, koneksi, dan sponsorship di tubuh Polri.

“Dan sudah saya terapkan dalam program rekrutmen tahun 2017 ini sejak saya diberi amanah sebagai As SDM Kapolri,” ujar Arief.

Arief juga mengimbau anggota yang masuk Polri dengan cara curang agar segera sungguh-sungguh bertobat. menurutnya rejeki yang didapat dengan curang adalah suatu keharaman.

“Segera taubat nasuha dan tidak melakukan dosa lagi. Karena semua penghasilan dari profesi, yang diperoleh dengan cara nyogok, adalah haram,” katanya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Goenawan membantah kabar Zulkiram berhasil diterima sebagai anggota polisi setelah menyuap panitia. Menurutnya, proses penerimaan anggota polisi dilakukan secara transparan dan ada pengawas eksternal.

“Tidak benar, dia (Zulkiram) bisa dituntut jika tidak (bisa) membuktikan,” kata Goenawan kepada Liputanindo.com, Senin (7/8/2017) malam.

“Rekrutmen Polri bersih, transparan, akuntabel, ada pengawas eksternal. Hasil tes diumumkan langsung, divideokan. Boleh komplain jika tidak puas,” jelas Goenawan.

Selain itu, Gunawan juga membenarkan jika Zulkiram dipecat dari anggota Polda Aceh karena tidak masuk dinas. Namun pihaknya mempertanyakan Zulkiram yang mengaku keanggotaannya tidak berkah setelah dipecat.

“Zul itu dipecat, ndak masuk dinas, kok sekarang bilang nyogok. Saya cek memang dipecat, malas dinas,” ungkap Genawan.

Menurut Goenawan, sebelum dipecat, Zulkiram tidak masuk dinas lebih dari 30 hari berturut-turut secara tidak sah. Pihak kepolisian kemudian melakukan sidang etik untuk memutuskan nasib Joekhana.

“Zul tidak masuk dinas lagi, makanya disidang komisi kode etik Polri selanjutnya diberhentikan dengan tidak hormat atau dipecat,” jelas Goenawan.

“Setelah dipecat, baru ngomong tidak berkah, gaji yang dimakan mulai 2007 dengan 2014 itu berkah apa tidak?” pungkasnya.

Leave a Reply