Kisah Mengharukan, Kebaikan Seorang Polisi di Ganjar Umrah Gratis

Liputan Indo Mungkin sebagian orang masih ingat dengan Bripka Alamsyah, salah satu personel Bhabinkamtibmas Kelurahan Sorek Satu Sektor Pangkalas Kuras, Kabupaten Pelalawan berhati mulia, menyuapi makan dan mengantar seorang nenek yang terlantar pada Maret 2017 silam.

Pasca kebaikannya itu yang kemudian diabadikan dalam foto menjadi viral, sosok Bripka Alamsyah tidak berubah sedikit pun.

Meski pula kebaikan dan dedikasinya sebagai ujung tombak Polri ditengah masyarakat diganjar umrah gratis, Alamsyah tetap menjadi sosok yang peduli dengan masyarakat.

“Saya terharu dengan apa yang saya dapatkan. Termasuk umrah gratis. Kalau saya kumpulkan uang sendiri, ntah kapan saya akan mampu umrah,” ujarnya, Minggu (10/9/2017).

Hadiah tersebut menurut Alamsyah tidak terlepas dari perhatian Kapolri, Kapolda Riau masa Itu, Irjen Zulkarnain, Kapolres Pelalawan AKBP Ari Winowo serta Kapolsek Pangkalan Kuras Kompol Ali Ardi.

Kabar terbaru, ia kini mendapatkan keluarga baru yakni Uan Gebut. Perempuan renta (78) yang tinggal seorang diri disebuah rumah papar berukuran 4×6 meter.

Menariknya, Uan Gebut ternyata sudah lama mengenal sosok Bripka Alamsyah dari masyarakat sekitar. Karena itu pulalah Uan meminta dikunjungi oleh Bripka Alamsyah.

“Saya temui beliau (Uan Gebut) eempat bulan lalu. Uan menyampaikan pesan ke warga agar saya menjenguknya,” terang Alamsyah.

Bripka Alamsyah tidak seorang diri, ia datang bersama istri dan anaknya menemui Uan Gebut.

“Tak terkira senangnya Uan Gebut saat saya kunjungi. Sampai kini saya masih rutin mengunjunginya dirumahnya yang terletak di Kampung Mulya Baru, Kelurahan Sorek Satu, Kecamatan pangkalan Kuras,” terang Alamsyah.

Posisi rumah Uan Gebut sekitar 200 meter dari Jalan Lintas Timur Kota Sorek Satu.

Diceritakan Alamsyah, Uan tinggal seorang diri. Rumah yang ditempatinya merupakan pinjaman dari saudaranya. Rumah terbuat dari papan, kecil dan cukup pula untuk Uan seorang diri. Kiri kanan rumah nampak beberapa batang pohon kelapa sawit. Atapnya seng dan dibagian belakang dibentuk pula tempat mandi, cuci dan kakus seadanya.

Bagi Uan itu sudah lebih dari cukup. Dihalaman rumahnya ada beberapa batang kayu yang sudah dipotong.

Batang-batang itulah yang kemudian ia belah menggunakan kampak dengan tenaganya yang tidak seberapa.

“Memegang kampak saja tampak gemetaran,” ujar Alamsyah.

Kondisi Uan memang cukup memprihatinkan. Anaknya pun jauh di Sei Lalak, Kabupaten Inhu.

“Saya kurang tahu pasti kapan Uan sudah tinggal disini. mungkin sudah tahunanlah,” ungkap Alamsyah.

Meski tinggal seorang diri dan serba kekurangan, Uan yang renta masih saja aktif bekerja. Kadang ia melakukan aktifitas sehari-hari untuk memasak.

“Termasuk membelah kayu. Kadang kalau saya mampir, saya bantu beliau. Nanti saya pasti akan diajak makan bersama,” cerita Alamsyah.

Uan begitu baik dan sadar dengan kekurangannya. Karena itu kehidupannya kini ditopang oleh warga sekitar.

“Kebutuhan Uan dibantu warga sekitar. Ya usiannya sudah lanjut. Tentu sudah terbatas,” papar Alamsyah.

Terkait kedekatan dan perhatiannya pada Uan Gebut, Alamsyah berharap nantinya juga akan pihak yang memberikan perhatian.

“Kemarin Uan ingin nonton. Saya usahakan televisi dari rekan. Dan Alhamdulillah tinggal dipasang. Namun kondisi Uan saat ini tetap menjadi perhatian dan butuh uluran tangan,” terangnya.

Uan memang sudah uzur., namun masih kuat beraktifitas.

Meski warga kerap memberikan bantuan, namun Uan sepertinya masih ingin mandiri pada beberapa pekerjaan.

Bripka Alamsyahlah yang kini kerap menemainya. Sekedar bercerita, membantu membelahkan kayu kemudian Uan akan mengajak Alamsyah makan bersama.

Leave a Reply