oleh

Ketua ARBI Aceh Sebut Prabowo Menyebar Hoaks Dari Pengejaran Panglima GAM Hingga Pembelian Pesawat Seulawah

Liputanindo.com Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto menceritakan konflik bersenjata di Aceh pada tahun 90-an lalu. Saat itu Prabowo masih berpangkat Letjen dengan menjabat sebagai Panglima Kostrad.

Dia mengaku memburu Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf yang akrab disapa orang Aceh dengan panggilan Mualem. Sebaliknya, kata Prabowo, Muzakir ingin menembak bahkan menculiknya untuk dihabisi.

“Tidak ada orang membayangkan bagaimana Panglima GAM dan Panglima Kostrad bisa jadi satu, saya juga tidak mengerti. Saya selalu cerita, saya bingung karena dulu beliau saya kejar-kejar dan beliau pun selalu kejar-kejar saya. Begitu ketemu kita saling pelukan, habis itu selesai,” kata Prabowo saat berkunjung di Aceh.

Ketua Arus Baru Indonesia (ARBI Aceh) Helmy N Hakim menyatakan Prabowo mengeluarkan pernyataan hoaks terkait peristiwa itu. Helmy menguraikan bagaimana Prabowo bisa memburu Mualem dan sebaliknya.

Menurutnya, Prabowo diberhentikan dari tentara tahun 1998. Sedangkan Mualem dilantik menjadi Panglima GAM pada 2002, setelah Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafie Syahid ditembak oleh TNI di Jimjiem Pidie Jaya pada Januari 2002.

“Ini hoaks sejarah yang ditiup ke rakyat Aceh,” katanya, Jumat (28/12).

“Jadi kapan Prabowo memburu Mualem? Sebab, ketika Mualem jadi Panglima GAM, Prabowo sudah berstatus dipecat dari tentara. Jika yang dimaksud Prabowo memerintahkan Kopassus dalam operasi-operasi tertutup dalam DOM yang telah mengorbankan ribuan rakyat Aceh, itu sangat mungkin,” imbuhnya.

Dia melanjutkan, Prabowo juga berbohong bahwa ayahnya terlibat dalam pembelian pesawat Seulawah yang didanai oleh rakyat Aceh. Prabowo menjelaskan saat proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, Soemitro Djojohadikoesoemo sering pulang pergi ke Provinsi Aceh untuk menggalang dukungan dari masyarakat setempat.

Menurutnya, saat itu rakyat Aceh secara sukarela mengumpulkan emas, gelang, perhiasan dan batu-batu berharga untuk membeli pesawat terbang pertama untuk Indonesia yang diberi nama Seulawah.

“Dalam sejarah pembelian pesawat Seulawah tidak pernah ada nama Soemitro. Apalagi ikut menggalang dana. Sebab yang menggalang dana dilakukan oleh Abu Beureueh, GASIDA dan lain-lain. Kami minta Prabowo harus belajar sejarah lagi. Jangan hanya untuk tujuan menggalang suara di Aceh dengan menyebar hoaks tentang sejarah Aceh,” tandasnya.

Sumber : merdeka.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed