Kepala Balai Diklat BNN Menilai Ada Kejanggalan Dengan Citra Buruk Indria

Liputan Indo Indria Kameswari pegawai Badan Narkotika Nasional (BNN) yang tewas dengan tragis di rumah kontrakannya, ia diduga dibunuh oleh Abdul Aziz Malik yang tak lain adalah suaminya sendiri.

Pada pemberitaan sebelumnya beredar transkrip yang diduga isi pertengkaran yang berujung kematian Indria. Berdasarkan transkrip rekaman yang beredar, Indria naik pitam dan mengatakan umpatan-umpatan yang tak pantas pada suaminya.

Bahkan pada transkrip rekaman tersebut Indria beberapa kali memukul suaminya. Dan pada rekaman tersebut Indria marah karena tak kunjung dibelikan mobil.

Ternyata ada hal baru yang belum terungkap.

Citra buruk yang sempat jadi viral ternyata berbanding terbalik. Orang-orang sekitarnya justru menilai. sebaliknya, lantaran hal-hal yang baik justru yang diketahui.

Seperti contoh di lingkungan pekerjaan.

Simak selengkapnya kupasan berikut

Abdul Malik Aziz Tersangka Pembunuhan Indria

Abdul Malik Aziz, suami Indria diketahui jarang pulang ke rumah kontrakan di Perumahan River Valley RT 01/RW 08, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Dikatakan, Abdul Malik Aziz hanya terlihat di rumah pada akhir pekan saja. “Jarang pulang ke rumah, hanya terlihat pada akhir pekan saja,” kata Eva, tetangga Indria Kameswari, Selasa (5/9/2017).

Bahkan, saat pulang ke rumah tersebut, pria yang akrab dipanggil Abdul ini kerap gonta-ganti mobil.
Mulai dari mobil sedan dengan tipe terbaru hingga mobil MPV dengan model terbaru.

“Setiap minggu mobilnya beda-beda. Kadang Camry, kadang Fortuner, kadang Avanza. Kalau terakhir kemarin itu ya pakai Ertiga sebelum kejadian,” kata Eva.

Karena kerap membawa mobil yang berbeda, tetangga pun menduga bahwa Abdul adalah pemilik mobil dealer bekas.

Namun ada perbedaan yang kontras antara Abdul dan Indria Kameswari ini

Meski Abdul sering gonta-ganti mobil, Indria malah hanya menggunakan motor matic untuk kegiatan sehari-harinya.

Indria diketahui kerap menitipkan motornya tersebut di Pos Satpam untuk melanjutkan perjalanan menuju Kantor Rehabilitasi BNN, Lido Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan menggunakan angkot.

Namun, baru belakangan inilah Eva mengetahui profesi Abdul. Ia menyebutkan bahwa Abdul bekerja sebagai debt collector.

Tak hanya masalah kendaraan saja yang kontras, namun sifat dan penampilan Indria Kameswari yang cukup berbeda dari pemberitaan yang ada.

Berdasarkan hasil penyidikan sementara Polres Bogor, diduga kuat motif pembunuhan terhadap Indria Kameswari oleh suaminya ini karena maslaah keributan atau cekcok di dalam rumah tangga.

Setelah ditangkapnya Abdul di Batam, Kepulauan Riau, keluarga masing-masing saling memberikan pembelaan untuk Indria maupun Abdul.

Siti Nuraeni, kakak kandung tersangka juga menyerahkan rekaman kepada polisi yang berisi keributan diduga Indria dan Abdul yang terjadi pada Februari 2017.

Siti Nuraeni kakak kandung Abdul Aziz Malik

Pada rekaman tersebut pun terlihat Indria yang kerap melontarkan cacian dan umpatan bahkan serta pukulan kepada suaminya saat menagih mobil dan rumah mewah.

Dari rekaman yang kini tersebar di media sosial tersebut, Indria terkesan sebagai sosok istri cantik dan antagonis, yang memiliki sifat arogan dan temperamental yang menuntut materi dari suami.

Namun ternyata pendapat berbeda dari atasan Indria

Atasan menilai janggal

Rekan Kerja Indria di Balai Diklat BNN

Pendapat yang bertolak belakang muncul dari Kepala Balai Diklat BNN, Sindhu Setiatmoko, ia justru mengungkapkan bahwa Indria adalah sosok yang dikenal supel dan ramah.

Sejak Indria bergabung dengan Balai Diklat BNN di Lido, Bogor, Jawa Barat pada Oktober 2016 lalu, Indria sudah menikah dengan Abdul.

Diketahui, sebelum bertugas di Balai Diklat Lido, Bogor, Indria adalah pegawai BNN Kabupaten Garut, Jabar.
“Betul, sejak bertugas di Diklat BNN Lido dia sudah bersuami dengan Abdul,” ujar Sindhu.

Sindhu pun berpendapat bahwa Indria adalah pribadi yang terbilang menyenangkan, energik, dan terkadang humoris baik dalam hubungan dengan atasan maupun teman sesama pegawai lainnya.

Bahkan, Indria juga tidak pernah melakukan pelanggaran etik maupun terlibat masalah seperti keributan dengan sesama pegawai selama hampir dua tahun bertugas di Kantor Balai Diklat BNN.

“Dia tidak pernah ribut. Orangnya cukup sopan dengan atasan,” jelas Sindhu.

Sepengetahuan Sindhu, Indria juga tidak pernah berkata kasar atau memiliki sifat jutek di lingkungan kerja di Balai Diklat BNN.

“Oh enggak ada, enggak ada. Dia enggak pernah slek sama teman. Yang jelas, pribadinya menyenangkan, humoris. Ribut enggak pernah. Bicaranya sopan, bicaranya logat Sunda-nya kental. Tapi, enggak judes,” kata Sindhu.

Tak hanya itu, kesan sosialita dan mewah yang ada pada diri Indria pun tidak terlihat dalam kehidupan sehari-harinya.

Diketahui, pakaian maupun perhiasan yang dikenakan oleh Indria saat bekerja tidak terlihat mewah.

Seolah janggal dengan pemberitaan yang beredar, Sindhu memiliki pendapat lain.

“Menurut saya penampilannya wajar yah. Makanya (kesan Indria materialistis) di pemberitaan itu terlalu dibesar-besarkan,” kata dia.

“Enggak bermerek pakaiannya, wajar saja. Memang penampilannya bagus. Tapi, dia enggak pernah show off seperti perhiasan segala, itu enggak,” imbuhnya.

Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh tetangga Indria. Indria disebutkan warga sebagai sosok yang ramah.

Sementara sang suami, Abdul justru dinilai sebaliknya

“Kalau si bapaknya (tersangka) mah bisa dibilang kurang ramah lah, etika secara sopan aja kurang lah sama keamanan, beda sama istrinya (korban) dia ramah,” ujar Kepala Keamanan Perum River Valley Maulana.

Tri Hardayanto, seorang warga lain mengatakan tidak menyangka Indria yang dikenal baik itu harus tewas mengenaskan.

Tri Hardayanto (tetangga korban)

“Yang saya tahu si ibu (Indria) bekerja di BNN sebagai apa saya kurang tahu, beliau cukup baik ya, kami tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu,” ujar Tri.

Leave a Reply