Gatot Nurmantyo Beri Sinyal Dampingi Prabowo di Pilpres 2019 Lewat Pembelaan Indonesia Bubar 2030

Liputan Indo Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ikut berkomentar tentang pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia akan bubar tahun 2030 mendatang.

Gatot membela penyataan Prabowo soal prediksi yang diambil dari sebuah novel Ghost Fleet. Bahkan menurutnya, hal itu bisa lebih cepat apabila kondisi Indonesia semakin lemah dalam konteks pertahanan dan keamanan negara.

Dia mengajak semua pihak menanggapi secara positif pidato Prabowo yang menyebut Indonesia bubar 2030. Gatot mengatakan hal itu sebagai peringatan bagi bangsa Indonesia agar memperkuat persatuan.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai pembelaan Gatot terhadap Prabowo sebagai sinyal politis. Gatot dianggap sedang berusaha mendekat ke Gerindra guna menjadi kandidat calon presiden maupun calon wakil presiden dari partai itu.

“Saya membaca konteks saat ini dia sedang melamar jadi capres atau cawapres dari Gerindra. Pernyataannya harus sehati dong dengan Pak Prabowo, wajar dia harus mendukung apa yang disampaikan Prabowo 100 persen, bahkan lebih agresif,” kata Adi.

Adi menilai Gatot tinggal berharap pada poros Prabowo (Gerindra dan PKS) agar mau menerimanya untuk bergabung ketimbang masuk ke poros Presiden Joko Widodo atau poros ketiga.

Menurutnya ada beberapa faktor mengapa Gatot lebih memiliki kedekatan ke poros Prabowo ketimbang poros lainnya.

Gatot Nurmantyo Mendekat ke Prabowo Subianto
Gatot Nurmantyo Mendekat ke Prabowo Subianto

Pertama, kata Adi, Gatot dan poros Prabowo sama-sama saling membutuhkan dalam konstelasi politik di tanah air menjelang pilpres 2019.

Adi mengatakan poros Prabowo membutuhkan tambahan ‘amunisi’ tokoh baru seperti Gatot agar mampu meningkatkan elektabilitas Prabowo yang kemungkinan akan dicalonkan kembali oleh Gerindra sebagai capres.

Sementara di sisi lain, Gatot dapat memanfaatkan poros ini untuk mendaftar dan ikut berpartisipasi sebagai calon wakil presiden jika poros ini akan mengusung Prabowo.

Saat ini poros Prabowo didukung oleh Gerindra dan PKS, sebagai partai yang bisa mengusung capres dan cawapres pada pemilu pilpres 2019.

Adi menilai sosok Gatot dianggap mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo apabila dirinya dicalonkan sebagai cawapres maupun dapat meningkatkan elektabilitas parpol pengusungnya.

Elektabilitas Gatot Nurmantyo Terus Meningkat
Elektabilitas Gatot Nurmantyo Terus Meningkat

Sebelumnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei yang dilakukan pada 1-9 Februari lalu. Hasilnya menunjukan elektabilitas Gatot Nurmantyo terus merangkak naik di angka 5,5 persen dibandingkan elektabilitas sebelumnya yang berada dikisaran angka 2,8 persen.

“Jadi semacam simbiosis mutualisme lah, Gerindra dan Prabowo butuh amunisi baru, tokoh baru karena Gatot mulai muncul namanya, dan sebaliknya, Pak Gatot juga bisa ambil kesempatan untuk bisa jadi capres atau minimal jadi cawapres di poros ini, jadi gayung bersambut,” kata Adi.

Faktor kedua, tambah Adi, pintu poros Jokowi sudah tertutup bagi Gatot jika yang bersangkutan memiliki keinginan untuk maju sebagai cawapres Jokowi.

Menurut Adi, banyak tokoh politik yang juga sudah ancang-ancang mengisi posisi cawapres Jokowi. Bahkan nama mereka dinilai lebih mentereng di masyarakat ketimbang Gatot.

Dalam bursa cawapres Jokowi, sejumlah nama telah muncul mulai dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko dan lainnya.

“Nah, ini partai yang lain juga sedang berebut simpatik PDIP dan Jokowi juga untuk bisa dilamar, untuk bisa diajak. Gatot itu kan, elektabilitasnya juga enggak terlalu besar dan enggak punya parpol juga,” kata Adi.

Gatot Nurmantyo Lebih Dekat Dengan Alumni 212
Gatot Nurmantyo Lebih Dekat Dengan Alumni 212

Selain itu, tambahnya, PDIP sebagai partai pengusung Jokowi dinilai tak memiliki kesamaan pandangan politik dengan Gatot terutama soal kedekatannya dengan kelompok Alumni 212.

Adi berpendapat, Gatot sering melontarkan pernyataan yang justru memiliki kecenderungan menguntungkan kelompok Alumni 212 ketimbang menguntungkan Jokowi.

“Berkaca pada pilkada DKI Jakarta misalnya, PDIP kan berdiri secara diametral, berbeda dengan sikap kelompok Alumni 212. Nah, Pak Gatot sepertinya punya kecenderungan lebih nguntungin dan berpihak pada kelompok Alumni 212, jadi chemistri-nya enggak ketemu,” kata Adi.

Faktor ketiga, kata Adi, peluang Gatot untuk mendekat ke poros ketiga yang diinisiasi oleh Partai Demokrat masih sangat kecil. Terlebih lagi, poros itu hingga saat ini masih sebatas wacana dan sangat kecil kemungkinan untuk terbentuk.

Dia menilai peluang Gatot untuk mendekat ke poros ketiga bentukan Partai Demokrat pun sulit dilakukan. Pasalnya, poros tersebut masih belum jelas kekuatan politiknya untuk bersaing dengan dua poros lainnya di pilpres 2019.

“Apalagi poros ketiga, di sana nasib keberadaan porosnya saja masih belum jelas, kalaupun jadi ada poros ketiga pasti sudah diblok sama AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang kepingin jadi capres, sehingga memang jalan Gatot itu ada di porosnya Prabowo,” ujar Adi.

Condong ke Prabowo

Gatot Nurmantyo Lebih Condong ke Prabowo
Gatot Nurmantyo Lebih Condong ke Prabowo

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai pembelaan Gatot terhadap pernyataan Prabowo terkait pidato Indonesia akan bubar pada 2030 mengindikasikan manuver untuk mendekat ke poros Prabowo guna mendapatkan jabatan publik yang lebih tinggi.

“Jadi untuk meraih simpati Gerindra dan Prabowo agar dirinya bisa mendapatkan jabatan publik yang lebih tinggi,” kata Wasisto.

Menurut Wasisto, fenomena para purnawirawan TNI yang memiliki ambisi untuk terjun ke dunia politik setelah pensiun, bisa dipastikan akan mencari patron atau seniornya di militer yang sudah terlebih dulu berkecimpung di dunia politik.

Dia menambahkan, mereka juga akan mencari dan memilih seniornya di militer yang mampu mengakomodasi segala kepentingan politik pragmatisnya. Relasi dan komunikasi yang terjalin intens antara Gatot dan Prabowo saat ini menjadi contoh.

“Nah, itu salah satu yang dilakukan oleh Gatot untuk menunjukan sikap respeknya terhadap Prabowo bahwa hal yang dikatakan Prabowo benar agar Prabowo bisa mengakomodasi kepentingan politik Gatot,” kata Wasisto.

Wasisto telah memprediksi bahwa gerak gerik Gatot untuk mendekat ke kubu Prabowo sebagai pihak oposisi pemerintahan Jokowi sudah terlihat sebelum dirinya menyatakan pensiun dari dunia militer.

Wasisto lantas mencontohkan hal tersebut ketika Gatot melontarkan pernyataan yang ‘menyerang’ pemerintahan Jokowi seperti isu pembelian senjata dan isu komunisme yang marak pada September 2017. Selain itu, Gatot juga memberikan pernyataan yang membela aksi kelompok Alumni 212 pada Desember 2016.

“Sejak menjelang akhir jabatannya sebagai panglima, Gatot sudah menunjukan sikap oposisi terhadap pemerintah. Saya melihat dia sudah ada kecenderungan kesamaan pandangan politik dengan Prabowo dengan melakukan cara-cara yang konfrontatif untuk mengintimidasi lawan politiknya, sudah cocoklah mereka itu,” kata Wasisto.

Leave a Reply