Frank Palmos, Jurnalis Australia yang Jadi Sumber Dokumen Rahasia AS Terkait Pembantaian PKI Tahun 1965

Liputan Indo Di antara sekian banyak dokumen penting, Pemerintah Amerika Serikat merilis dokumen rahasia terkait peristiwa pembunuhan massal melawan Partai Komunis Indonesia pada pertengahan tahun 1960an. Dalam serangkaian dokumen itu terpampang jelas pemerintah AS mengetahui peristiwa pembantaian massal terhadap anggota PKI dan diduga para simpatisannya.

Di antara 39 dokumen dengan 30 ribu halaman yang dirilis itu, pemerintah AS mengutip seorang sumber yang disebut sebagai ‘jurnalis Australia yang bisa diandalkan’.

Jurnalis Australia sekaligus sejarawan bernama Frank Palmos, yang ketika itu jadi koresponden harian the Sydney Morning Herald dan sejumlah surat kabar lainnya, tidak diragukan lagi adalah sumber yang dimaksud dalam dokumen AS tersebut.

“Duta Besar Amerika untuk Indonesia ketika itu Marshall Green tertawa karena saya tahu lebih banyak dari dia,” ujar Palmos, yang kini berusia 70-an tahun kepada Fairfax Media, seperti dilansir laman the Sydney Morning Herald, Sabtu (21/10).

Palmos rupanya juga menjadi inspirasi yang jelas untuk novel The Year of Living Dangerously, yang kemudian dijadikan film yang dibintangi Mel Gibson tentang peristiwa seputar 1965. Palmos termasuk salah satu warga asing yang menjadi saksi pembunuhan 500 ribu lebih orang-orang yang diduga komunis di Indonesia.

Dalam dokumen telegram 1516 dari Badan Arsip Keamanan Nasional menyatakan, ada komunikasi antara pengamat Barat dan sejumlah aktivis dari Partai Komunis Indonesia, yang dikenal sebagai PKI.

Telegram tertanggal 20 November 1965 menyebutkan ada ‘jurnalis Australia yang andal’ dan fasih berbahasa Indonesia serta merupakan wartawan Barat pertama yang mengunjungi Jawa Tengah pada 10 Oktober 1965.

Polisi Indonesia Menjauh Dari Kehancuran Setelah Demonstran Membakar Markas PKI di Jakarta Oktober 1965
Polisi Indonesia Menjauh Dari Kehancuran Setelah Demonstran Membakar Markas PKI di Jakarta Oktober 1965

“Dia mengatakan sudah berkomunikasi dengan kader PKI di sejumlah tempat di Jawa Tengah dan merasa bingung serta tidak tahu ada peristiwa Gerakan 30 September,” bunyi telegram itu.

Pergerakan 30 September merupakan kudeta yang dibatalkan, disalahkan pada PKI, di mana enam perwira tinggi diculik dan dibunuh.

Presiden Soekarno Setelah Pembersihan Memimpin 3 Wakil Perdana Menteri ke Rumah Tamu di Istananya di Jakarta 27 Oktober 1965
Presiden Soekarno Setelah Pembersihan Memimpin 3 Wakil Perdana Menteri ke Rumah Tamu di Istananya di Jakarta 27 Oktober 1965

Kejadian inipun memicu pembantaian yang diajukan oleh tentara Indonesia yang dituduh komunis dan siapa saja yang memiliki kecenderungan tersangka.

“Informasi ini menunjukkan bahwa pejabat AS sangat menyadari bahwa para pendukung dan anggota PKI yang ditangkap atau dibunuh dalam kampanye penindasan yang dipimpin tentara dan pembunuhan massal tidak memiliki peran atau bahkan pengetahuan tentang gerakan 30 September,” Arsip Keamanan Nasional mengatakan.

Frank Palmos Tahun 1965
Frank Palmos Tahun 1965

Menurut Palmos, dia dan jurnalis stasiun televisi Kanada, CBC Don North, mengunjungi Jawa Barat dan Jawa Tengah selama 10 hari setelah kudeta yang gagal untuk mengukur skala keterlibatan PKI dalam peristiwa G30S.

“Saya ingin tahu apakah peristiwa di Jakarta itu tersampaikan dengan baik ke seluruh anggota PKI,” kata Palmos.

Pemandangan itu sepi sepi, dengan para petani yang telah mendukung PKI sudah khawatir tentang tindakan militer.

“Bendera komunis bintang merah sudah turun yang mengindikasikan mereka berlindung,” kata Palmos. “Saya cukup berani pada masa itu tapi saya masih ketakutan.”

Palmos tidak terkejut ketika mengetahui para kader PKI di Jawa Tengah tidak mengetahui adanya kudeta tersebut.

Laporan sebelumnya tentang apa yang disebut “Long March” dari Surabaya ke Jakarta pada bulan Mei 1965 untuk merayakan ulang tahun ke-45 PKI, yang gagal pada saat tiba di Bekasi. Mereka telah meyakinkannya bahwa Partai Komunis tidak memiliki tentara substantif di Jawa tengah.

“Petani tampaknya meringkas situasi : Saya akan mendukung partai (PKI) dan memilih partai tapi saya tidak akan memperjuangkan partai tersebut,” kata Dr Palmos.

Dr Palmos mendokumentasikan ke-ngerian pembersihan anti komunis

“Pemancungan paling sering terjadi, tapi dalam skala yang lebih besar, eksekusi dengan penembakan sudah dianggap biasa,” tulis Palmos waktu itu di The Sun News, koran terbesar di Melbourne.

Namun dia percaya bahwa jika PKI berhasil melakukan kudeta, pertumpahan darah akan menjadi lebih buruk.

“Satu-satunya hal yang melayang ketika saya kembali ke atas adalah karena PKI ikut berkuasa, [Indonesia] bisa saja melewati jalan di Kamboja, di mana Pol Pot membantai hampir 40 persen populasinya.”

Pembantaian komunis tahun 1965-66 tetap sangat sensitif di Indonesia.

Bulan lalu, polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan protes anti komunis yang secara salah mengklaim sebuah acara di Jakarta Legal Aid Institute Foundation adalah pertemuan para pendukung komunis.

Pada tahun 2015, Festival Penulis Ubud membatalkan sesi yang membahas 1965. Tindakan penyensoran pertama dalam sejarah acara internasional yang populer.

Amnesty International mengeluarkan sebuah pernyataan pada bulan Agustus yang mengatakan bahwa setidaknya ada 39 kasus sejak tahun 2015 dimana pihak berwenang membubarkan acara yang berkaitan dengan 1965.

Leave a Reply