oleh

Fahri : Rakyat Boleh “Menyerang” Lembaga Kepresidenan, Tapi Gak Boleh “Menyerang” DPR

LiputanIndo.com – Garbi atau Gerakan Arah Baru Indonesia, menjadi kendaraan politik Fahri Hamzah. Dia menyulap kegiatan “Ngopi Bareng” Fahri yang selama ini digelar berubah menjadi Garbi. Apakah akan bermetamorfosis jadi partai politik di tahun 2014? Nampaknya akan mengarah ke sana.

Pada pertemuan Garbi di Sumatera Selatan ini, Minggu (14/10), Fahri Hamzah menjawab beberapa pertanyaan. Di antaranya pertanyaan yang disampaikan perserta diskusi dari ketua kelompok Emak-Emak Sumatera Selatan. Ibu tersebut mengaku, dirinya sering diserang ketika hendak menyampaikan kebenaran.

Soal menyerang presiden, Fahri Hamzah menjelaskan bahwa itu adalah delik aduan, sehingga tidak bisa dipidanakan, kecuali atau tuntutan secara pribadi oleh yang bersangkutan. Bukan atas nama presidennya.

Lebih jauh, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ini mengatakan, rakyat boleh “menyerang” lembaga kepresidenan dengan berbagai macam kritik yang pedas. Sebab, kata dia, lembaga kepresidenan memiliki kekuasaan. Justru rakyat tidak boleh menyerang DPR lantaran dianggapnya tidak memiliki kekuasaan.

“Boleh menyerang lembaga Kepresidenan, atau sebut kabinet bohong, sebab mereka punya power. Yang tidak boleh itu menyerang DPR dan lembaga pengadilan seperti hakim karena mereka lemah tidak ada kekuasaan,” kata Fahri ketika menghadiri acara “ngopi bareng” dalam Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) di Palembang, Sumatera Selatan tersebut.

“Jadi bu, boleh mengkritik lembaga Kepresidenan. Polisi juga sekarang baik-baik, kalau ditangkap malamnya dikasih nasi goreng,” kelakar Fahri.

Lebih lanjut, Fahri menjawab langkah Garbi menghadapi pilpres 2019, akan mendukung siapa? Calon yang ada adalah pasangan nomor 1 Jokowi-Ma’ruf Amin, dan nomor 2 Prabowo-Sandi. Menurut Fahri Hamzah kedua capres ini tidak ada bedanya, karena belum menjawab tantangan dalam Gerakan Arah Baru Indonesia. Akan tetapi, Garbi akan terus menyimak perkembangan selanjutnya.

“Kalau nggak ada seperti ini, Anda digaji untuk mendengar yang pedes-pedes, begitu cara kerjanya demokrasi, banyak yang belum paham. Emak-emak yang berjuang perlu semacam keberanian, dulu Bung Karno ngga ada TV atau Radio, ketika mau berpidato,” kata politkus PKS itu.

Sementara ini, karena kerap mengkritik kebijakan Presiden Jokowi, Fahri Hamzah dinilai memihak pada Prabowo. Akan tetapi, melihat pernyataan ini, nampaknya Fahri dengan Garbinya, belum melabuh kepada calon mana pun. Ini menjadi penguat sebuah pertanyaan, kenapa Fahri Hamzah tidak masuk dalam jajaran timses manapun.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed