Dukung Terawan, Hendropriyono Bilang Masa Bodoh Dengan Teori, yang Terpenting Pasian Bisa Disembuhkan

Liputan Indo Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Abdullah Mahmud Hendropriyono tidak mempersoalkan metode Digital Substraction Aniogram (DSA) yang selama ini digunakan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Dokter Terawan Agus Putranto.

Menurutnya, sebagai pasien yang pernah disembuhkan Terawan, Hendro mengatakan yang penting pasien dapat sembuh dengan metode tersebut.

“Masa bodoh itu teori diakui atau tidak. Itu persoalan di sekolahan sana, yang penting rakyat sembuh, kan itu,” katanya di kantor KPU, Jakarta, Jumat (13/4).

“Kalau sampai dilarang praktik saya lari ke dukun saja yang enggak diatur praktiknya,” lanjut Hendro.

Hendro menilai selama ini Terawan telah membantu banyak orang menyembuhkan penyakit dengan biaya yang lebih terjangkau. Menurutnya, biaya pengobatan Terawan lebih murah dibanding berobat ke luar negeri.

Hendro lalu meminta kepada semua pihak agar tidak mempersoalkan metode DSA ala Terawan. Dia mengatakan metode tersebut sudah terbukti mujarab dan berhasil menyembuhkan banyak pasien. Terlebih menurutnya, Terawan telah dipercaya oleh banyak pejabat negara.

“Kalau yang kaya saya gampang bisa ke luar negeri,” kata Hendro.

“Jadi menurut saya sudahlah yang penting rakyat. Kalau rakyat banyak yang stroke pada mati, ini ada orang bisa mengobati apa salahnya diobati. Kalau teori salah, itu ya masalah teorinya aja,” ucapnya.

Hendro lantas meminta Kementerian Kesehatan untuk tegas menanggapi polemik Terawan yang dinonaktifkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan dokter Indonesia (IDI). Hendro merasa heran Kemenkes cenderung pasif. Padahal menurutnya, Kemenkes merupakan lembaga pemerintah yang memiliki wewenang penuh.

“You kan government. Jadi titik itu harus dipegang. Saya menyayangkan rekomendasi yang diajukan,” ujar Hendro.

Hendro menyatakan hal tersebut bukan untuk membela Terawan sebagai sesama kalangan militer. Diketahui, Hendro merupakan pensiunan TNI AD berpangkat jenderal bintang empat. Sementara Terawan merupakan Mayjen TNI AD aktif.

“Bukan sebagai tokoh militer. Saya sebagai pasiennya, kok. Buat saya yang penting saya sembuh,” katanya.

Sumber : cnnindonesia

Leave a Reply