Damai Jadi Jalan Terbaik Dalam Kasus Pemukulan Seorang Guru SMP Terhadap Muridnya

Liputan Indo Kedua belah pihak sudah berdamai, dalam kasus penganiayaan seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhadap muridnya di Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Kesepakatan damai itu terjadi setelah sang guru yang bernama Ma’in, pihak sekolah, dinas pendidikan Pangkal Pinang, dan keluarga korban melakukan pertemuan, tak lama setelah kejadian tersebut.

“Atas peristiwa tersebut pada tanggal 16 Oktober 2017 bertempat di SMPN 10 dilakukan pertemuan antara orang tua murid Rama, guru Ma’in kepala sekolah, Disdik Budaya Pangkal Pinang dan juga pengurus sekolah yang ditindak lanjuti dengan membuat surat perjanjian damai,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Rikwanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/11).

Guru Ma'in Sudah Damai Dengan Keluarga Korban
Guru Ma’in Sudah Damai Dengan Keluarga Korban

Kejadian itu berawal ketika korban dengan sengaja mengejek guru tersebut, dengan memanggil nama tanpa menggunakan sapaan kata ‘Pak’ saat melewati kelas lain yang sedang diajar oleh guru pelaku.

Setelah kelas Rama (korban) selesai pelajaran olahraga di lapangan. Keisengan Rama tersebut kemudian berbuah penganiayaan karena sang guru kemudian mencari siapa murid yang manggil namanya.

“Lalu korban mengaku dia yang memanggil, saat itu juga aksi pemukulan dan pembenturan kepala ke dinding terjadi. Korban sempat dibawa ke kantor kepala sekolah,” ujar Retno dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin 6 November 2017.

Akibat penganiayaan itu korban sempat menjalani perawatan di IGD RSUD Kota Pangkal Pinang. Saat ini siswa Rama Haryanto bersekolah seperti biasa dalam keadaan sehat.

Rama Dihajar Guru Hingga Masuk IGD RSUD
Rama Dihajar Guru Hingga Masuk IGD RSUD

Sebelumnya, kasus penganiayaan itu menjadi perhatian setelah video penganiayaan itu beredar luas di media sosial. KPAI turut angkat bicara terkait kasus penganiayaan tersebut.

“Ini sudah masuk kategori penganiayaan berat, karena tidak sekadar ditampar, tetapi siswa pun dibenturkan kepalanya ke dinding. Diduga akibat benturan tersebut, ananda korban mengalami sakit di kepala,” kata Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti kepada wartawan di Jakarta, Senin (6/11).

Leave a Reply