Berapa Dana yang Dibutuhkan Jika Indonesia Ingin Pindahkan Ibu Kota?

Liputan Indo Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas terus melakukan kajian terhadap pemindahan ibu kota negara. Kajian ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2017 sehingga pada tahun 2018 proses pemindahan ibu kota bisa dimulai.

Lantas berapa dana yang dibutuhkan untuk memindahkan dan membangun sebuah ibu kota baru di Indonesia?

Nirwono Yoga selalu Pengamat Tata Kota mengatakan, dari studi awal yang telah dilakukan, diperkirakan pemerintah membutuhkan dana sekitar Rp 100 triliun untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke lokasi baru.

“Dari studi awal, diperkirakan angkanya sekitar Rp 100 triliun. Secara teknis untung atau tidak kalau kita bikin ibu kota baru? Lebih untung mana kalau ibu kotanya tetap di Jakarta dan Jakarta-nya dibenahi, dari pada memindahkan ibu kota dan membangun kota baru tetapi Jakarta-nya tetap harus dibenahi,” ujar dia di Jakarta, Rabu (5/7/2017).

Dia menjelaskan, dana sebesar Rp 100 triliun tersebut, setidaknya akan digelontorkan untuk membangun lima hal dasar untuk menjadikan sebuah wilayah sebagai ibu kota negara Indonesia.

  1. Membangun sarana dan prasarana pemerintahan.
  2. Membangun tempat tinggal bagi pegawai pemerintah dan masyarakat umum.
  3. Membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, serta saranan dan prasarana transportasi lain.
  4. Membangun jaringan utilitas pendukung kota seperti air bersih, pengolahan sampah‎, jaringan gas, listrik dan sebagainya.
  5. Ketersediaan ruang terbuka hijau kota.

“Jadi semua bisa terpenuhi untuk menjadikan sebuah ibu Kota baru. Tapi ini baru bicara soal infrastruktur sebuah kota, persoalan berikutnya yaitu bagaimana menghidupkan kotanya,” jelas dia.

Nirwono menuturkan, dari pada membangun ibu kota dari awal, lebih baik dana sebesar Rp 100 triliun tersebut digunakan untuk mengembangkan wilayah-wilayah lain. Dengan demikian, kesenjangan antara Jakarta dengan kota-kota lain bisa diperkecil dan masyarakat tidak perlu datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

“Kalau pun ada dananya, lebih baik untuk mempercepat pengembangan kota-kota untuk melapisi kota Jakarta, terutama kota-kota di Pulau Jawa. Kemudian mengembangkan kota-kota baru di luar Jawa. Supaya kesenjangan kota antar Jakarta dengan kota-kota di luar Jawa tidak terlalu jauh. Itu lebih manusiawi,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *